![]() |
Image by Sidhant Kumar from Pixabay |
Sejak kecil, Nadia selalu merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Lahir sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, ia seharusnya menjadi yang paling disayangi. Namun, kenyataan berkata lain. Kakak-kakak perempuannya sering meremehkannya, mengasingkannya dari kebersamaan mereka. Ia tumbuh dalam kesunyian, terbiasa menjadi pilihan terakhir, terbiasa menelan luka dalam diam.
Hidup dalam keluarga sederhana mengajarkan Nadia banyak hal. Sekolahnya tidak selalu mudah, namun beruntung ada kakaknya yang ketiga—satu-satunya saudara laki-lakinya—yang membantu membiayai pendidikannya. Dari kecil hingga remaja, ia belajar untuk bertahan tanpa banyak berharap pada keluarganya.
Saat ia menikah, takdir membawanya kembali ke rumah ibunya. Pernikahannya bertepatan dengan perceraian kakak keduanya, yang akhirnya kembali ke rumah bersama kedua anaknya. Rumah yang sebelumnya sepi berubah ramai, tetapi bagi Nadia, itu bukan kehangatan—melainkan beban baru.
Sebagai satu-satunya menantu laki-laki di rumah itu, suaminya adalah pihak yang paling asing. Dan Nadia? Ia tetap seperti dulu—pilihan terakhir dalam segalanya.
Kakaknya sibuk bekerja, meninggalkan anak-anaknya dalam asuhan ibu mereka yang sudah tua. Setiap pagi, sebelum subuh, rumah sudah ramai dengan tangisan anak-anak. Kakaknya pulang kerja jam delapan pagi, tapi baru menanyakan anaknya jam sepuluh. Seolah kelelahan kerjanya lebih penting dari kelelahan ibunya yang sudah renta.
Ibu mereka tak pernah mengeluh, tapi tubuhnya mulai melemah. Ia sering terlambat makan, terlalu sibuk mengurus cucu-cucunya. Hingga akhirnya jatuh sakit. Dan saat itu, hanya Nadia yang merawatnya.
Saat itu, Nadia baru saja melahirkan. Bayinya masih sangat kecil, baru tiga bulan. Di satu sisi, ia harus mengurus anaknya sendiri. Di sisi lain, ibunya butuh perawatan. Tapi saat ia mulai meminta kakaknya lebih peduli pada kondisi ibu, yang ia dapatkan justru tatapan sinis dan pengaduan.
Dua hari kemudian, kakak sulungnya datang dari luar kota. Tanpa bertanya, tanpa memahami situasi, ia langsung menegur Nadia. "Jangan kasar sama ibu," katanya. Rupanya, kakak keduanya telah lebih dulu mengadu, seolah Nadia adalah satu-satunya pihak yang salah.
Dan inilah pola yang selalu terjadi dalam hidupnya.
Ketika ada pertengkaran dengan tetangga, ibunya lebih memilih membela orang luar. Ketika suaminya difitnah, keluarganya tidak berpihak padanya. Ketika Nadia melahirkan anak keduanya dan bayi itu harus diinkubator selama seminggu, atau ketika ia mengalami keguguran—ia harus menahan semua sendiri. Alasannya? "Ibu sudah tua, tak perlu repot-repot."
Tapi anehnya, ketika kakak iparnya butuh bantuan, ibunya selalu ada. Bahkan uang yang seharusnya untuk kebutuhan rumah tangga sering kali dipinjamkan—atau diberikan—kepada saudara-saudaranya. Saat Nadia bertanya, ibunya selalu menjawab, "Tidak ada uang." Tapi kenyataannya, uang itu selalu mengalir ke orang lain.
Nadia tidak mengerti. Mengapa ia selalu berada di posisi ini? Mengapa kehadirannya selalu dianggap remeh?
Namun, satu hal yang ia tahu pasti: ia tidak ingin anak-anaknya merasakan hal yang sama.
Jika rumah ini tak pernah menjadi tempat yang ramah baginya, setidaknya ia akan menciptakan rumah yang penuh cinta untuk keluarganya sendiri.
Tapi mampukah ia benar-benar melepaskan bayangan masa lalu?
0 Komentar